Single Post

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

 

Design Innovation Project 2019 diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung pada  27-30 November 2019. Fokus permasalahan yang harus diselesaikan para finalis dalam kompetisi ini adalah permasalahan sumber daya air yang mencakup wilayah DAS Citarum diantaranya dari segi kuantitas air, kualitas air, dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketersediaan air yang ada. Jurusan Teknik Pengairan berhasil memborong 4 juara pada kompetisi ini.

JUARA I – Tim  Jeevika-64

Tim  Jeevika-64 meraih Juara 1 dari 5 finalis terpilih dengan menggagas inovasi berjudul “Penerapan Sistem Drainase Berkonsep Low Impact Development (LID) Dilengkapi Perencanaan Dry Dam, Ipal Dan Normalisasi Penampang Ganda Guna Menjaga Ketahanan Air Di Das Citarum”. Tim ini terdiri dari Chintya Ayu Permata Herdita (P16), Tita Hidayah (P16), Muhammad Fahmi Khoiruddin (P16) dan dibimbing oleh Dr. Ery Suhartanto, ST., MT.

Konsep struktural pengendalian banjir dan penurunan muka tanah adalah dengan manajemen limpasan permukaan yaitu menahan, menampung, menyimpan, menyerapkan, meresapkan dengan Penerapan Sistem Drainase Berkonsep Low Impact Development (LID). Untuk fenomena flash flood pada DAS Citarum Hulu sebagai wilayah cekungan Bandung direncanakan Dry Dam dengan sistem cascade terkombinasi Deep – Injection Well yang digunakan untuk menampung sementara debit banjir yang lewat sehingga terjadi pemotongan debit puncak banjir dan menaikkan waktu puncak (time peak). Untuk permasalahan pengaliran debit banjir yang tidak normal direncanakan normalisasi penampang ganda, dimana disediakan 2 dimensi yang memiliki 2 fungsi berbeda, yaitu untuk mengalirkan debit normal sungai sebagai bentuk maintenance flow dan fungsi keduanya adalah untuk mengalirkan debit banjir rancangan yang melewati sungai utama (running debit banjir rancangan Q25th dan dikontrol dengan Q50th). Perencanaan non Struktural berupa regulasi, kegiatan langsung yang mengajak masyarakat dan memberikan inovasi-inovasi baru merupakan upaya dilakukan untuk mendukung upaya struktural sehingga dapat menjadi penyempurnaan dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di lokasi studi.  Dalam mengatasi masalah kualitas air di Sungai Citarum sebagai upaya menjaga ketahanan fungsi air, direncanakan IPAL dengan sistem biofilter aerob dan anaerob dengan tujuan meningkatkan kualitas air limbah domestik sebelum dibuang langsung ke sungai. Dari hasil perencanaan proses dan desain teknis IPAL mengenai efisiensi dan dimensi bak pengolahan dapat diperkirakan kualitas effluent yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan sebagai air dengan air kelas I sehingga dapat dimanfaatkan sebagai air baku.

“Konsep yang digagas menyangkut keseluruhan permasalahan yang ada di DAS Citarum baik konsep structural dan nonstructural yang diberikan. Gagasan untuk menjaga ketahanan air di DAS citarum dari kelompok kami terintegrasi dari hulu hingga hilir DAS Citarum. Sehingga semua aspek dan usulan perencanaan dipikirkan secara matang bedasarkan kondisi di lapangan. Diharapkan setiap solusi memiliki kemanfatan baik dari segi kualitas dan kuantitas ketahanan air di DAS Citarum.” ungkap Fahmi.

 

JUARA II – Tim  Doryoku – 64

Tim  Doryoku – 64 meraih Juara 2 dari 5 finalis terpilih dengan menggagas inovasi berjudul “Upaya Penanganan Das Citarum Guna Menjaga Ketahanan Sumber Daya Air Dengan Metode Seaweed  (Social Engineering For Integrated Watershed) Yang Berbasis Suistainable Development”. Tim ini terdiri dari Firda Agustiya Rini  (P16), M. Sina Syaelendra (P16), Apria Wayah Patra S.N. (P16) dan dibimbing oleh Dr. Eng. Riyanto Haribowo, ST., MT.

“Solusi yang diusulkan dengan pembuatan wetland sederhana untuk mengurangi pencemaran air tersebut. Selanjutnya untuk Kawasan hilir DAS Citarum hilir dibuat river front yang merupakan konsep penataan Kawasan sempadan sungai yang berbasis ekowisata untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sumber daya air yang ada. Sebagai seorang engineer disamping mengutamakan keberhasilan pembangunan infrastruktur namun juga tetap memperhatikan pemeliharaan infrastruktur tersebut dengan melibatkan masyarakat dan stakeholder lainnya untuk ikut andil secara langsung dalam menjaga keberlangsungan pembangunan tersebut. (peningkatan social engineering untuk mendukung pembangunan yang suistainable development dan terintegrasi dengan baik).” ungkap Firda.

 

JUARA HARAPAN I – Tim  Arboretum – 64

Tim  Arboretum-64 meraih Juara Harapan 1 dari 5 finalis terpilih dengan menggagas inovasi berjudul “Pro-Cipoleti Bangunan Pengendali Banjir Berbasis Sustainable Development Dan Pemanfaatan Kawasan Ekowisata Pada Das Citarum Hulu Guna Mewujudkan Pengelolaan Das Yang Terpadu”. Tim ini terdiri dari Rizky Ramadhani Anwar S. (P17), Annisa Cahyaning Jannah (P17), Rosalina Putri Sekar Arum (P17) dan dibimbing oleh Dr. Eng. Tri Budi Prayogo, S.T., M.T.

“Secara garis besar inovasinya berupa  perencanaan teknis yang meliputi: Kolam retensi, Bendung gerak, Ring Barrier Net, IPAL, IPA, Wetland. Serta perencanaan non-struktural: River Warrior, Bank Sampah, Ekowisata. Keuanggulan dari inovasi tersebut adalah adanya pemanfaatan air dari kolam retensi menjadi air baku untuk warga saat musim kemarau serta adanya ekowisata yang membuat sungai citarum dapat merubah citra dan lebih dijaga oleh masyarakat.” ungkap Rosalina.

 

JUARA HARAPAN II – Tim  Inzig – 64

Tim  Inzig-64 meraih Juara Harapan II. Tim ini terdiri dari Muhammad Haikal Azmi (P17); Damarendro Wihandaru Putra (P17); Nugraha Faiz Al Nino (P17) dan dibimbing oleh Dr. Eng, Andre Primantyo H. ST., MT. Tim ini menggagas ide berjudul “Konservasi SDA & Pengendalian Banjir Terpadu Menggunakan Kolam Retensi & Gappei-Shori Johkasou  Guna Menciptakan Ketahanan Air di DTS Citarum Hulu Berbasis Bio-Engineering”.

“Inovasi yang diberikan antara lain : reduksi Banjir dengan perencanaan desain Kolam Retensi untuk mereduksi titik-titik banjir di DAS Citarum; pengendalian sedimen dengan perencanaan bangunan pengendali sedimen berupa Bamboo Sediment Trap yang dipasang di parit-parit persawahan; instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan instrumen Gappei Shori Johkasou untuk pengolahan limbah greywater dan blackwater sekaligus;  serta peningkatan kualitas air sungai dengan Floating Treatment Wetlands yakni salah satu jenis constructed wetland yang ditanami Phragmites s.p dalam biohaven di sepanjang sungai lokasi studi. Ide yang digagas memiliki coverage secara menyeluruh serta berbasis bio engineering dalam penanggulangan masalah yang ada. Sehingga diharapkan, berbagai masalah yang melanda DAS Citarum dapat terselesaikan secara efektif.” ungkap Haikal.

Harapan semua tim agar dapat memberikan pemikiran baru kepada direksi dan birokrasi terkait serta masyarakat bahwa aspek sosial dalam pembangunan infrastruktur adalah sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sumber daya air kedepannya.Dan dapat menunjang inovasi-inovasi lainnya untuk bisa dikembangkan lagi dalam kegiatan pemanfaatan air dan pengendalian daya rusak air. Serta semoga untuk kedepannya Teknik Pengairan UB dapat mengirimkan banyak tim lagi untuk berbagai perlombaan keairan di Indonesia dan mendapat juara.

(RRP)

 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]c u