Ditulis pada tanggal 9 Oktober 2017, oleh s2, pada kategori Berita

Dalam rangka peningkatan kapasitas sumber daya manusia Aparatur Sipil Negara dalam bidang Pekerjaan Umum, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dalam hal ini Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia mengadakan tugas belajar pendidikan kedinasan dan vokasi program pascasarjana (S2) bagi Aparatur Sipil Negara yang berada dibawahnya melalui kerjasama dengan Universitas Brawijaya. Kegiatan observasi lapangan ini merupakan satu kegiatan yang diprogramkan dalam pendidikan kedinasan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2017  yang terintegrasi dengan Mata Kuliah Teknik Konservasi Sumber Daya Air dengan Dosen Pengampu Prof.Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS. dan Dr. Ery Suhartanto, ST., MT. Studi lapangan ini berlatar belakang untuk mempelajari penerapan konsep teknologi konservasi pada wilayah perkotaan dengan dukungan dari masyarakat sehingga  mampu mengubah suatu kampung dari kondisi kumuh menjadi lingkungan yang lebih baik.

Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatan wawasan dengan melihat contoh aksi  nyata keberhasilan  inovasi teknologi dan gerakan menabung air di Kampung 3G terkait konservasi sumber daya air yang meliputi partisipasi warga dalam pemberdayaan, mampu menciptakan wirausahawan, gotong royong, pemasaran, permodalan dan  pengembangan sumber daya manusia (SDM).  Sasaran kegiatan ini adalah untuk meningkatkan wawasan para karyasiswa agar  kreatif dan inovatif dalam  menghadapi isu berkembang terkait konservasi   Sumber Daya Air. Adapun kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Glintung RW.23, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Kota Malang Jawa Timur Pelaksanaan Kegiatan Stududi Observasi Lapangan Kampung 3G (Glintung Go Green) pada hari Sabtu, 23 September 2017 Kegiatan ini diikuti oleh beberapa peserta dari Mahasiswa S2 Program MSDA, ISDA  serta Karyasiswa PU Program MSDA UB angkatan 2017.  Pada kunjungan lapangan ini Mahasiswa didampingi oleh Dosen Mata Kuliah Teknik Konservasi Sumber Daya Air  Bapak Dr.Ery Suhartanto,ST,MT dan Bapak Ir. H. Bambang Irianto (Ketua RW.23) sebagai narasumber selaku penggagas dari Kampung 3G (Glintung Go Green).

Glintung Go Green (3G), merupakan sebutan kampung yang bernuansa hijau asri didukung oleh tanaman hidroponik yang menghiasi sepanjang jalan perkampungan. Selain itu, kebersihan pemandangan perkampungan dan jalan yang terjaga, membuat lingkungan hidup yang sehat. Gerakan ini mengusung gerakan ramah lingkungan, karena kampung yang sekarang asri, dahulu kerap dilanda banjir dan kesehatan warga yang rentan akan penyakit degeneratif hingga menimbulkan angka kematian warga. Perwujudan gagasan ini bukan hal yang  gerakan mudah, mengingat gagasan dasarnya ingin mempertahankan nilai-nilai luhur budaya kampung dan memperbaiki kondisi lingkungan dalam arti luas, sekaligus tetap menyerap nilai-nilai modern untuk memperkaya aspek sosial-ekonomi masyarakat.

Awal mula pelaksanaan program di Kampung 3G adalah disepakati setiap rumah wajib memiliki tanaman hijau sebagai syarat untuk memperoleh layanan administrasi kependudukan. Bagi mereka yang tidak mampu membeli tanaman, maka pihak RW menyediakan tanaman dan yang bersangkutan berkewajiban merawatnya. Seiring waktu Kampung 3G saat ini juga merambah ke tanaman yang dapat dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Secara swadaya, masyarakat mulai belajar bercocok tanam tanaman sayuran dan tanaman pangan. Saat ini teknologi yang diterapkan pun bervariasi, mulai dari cara konvensional di lahan dan di pot/polibag, sampai dengan sistem hidroponik. Kampung 3G juga memiliki program GEMAR yaitu Gerakan Menabung Air dengan konsep yaitu air melalui selokan masuk sumur injeksi. ditabung. Agar cadangan air tanah meningkat dan suhu micro climate menurun. Mengatasi banjir tidak hanya mengalirkan air namun juga menanamkan. Selain sumur injeksi, gerakan menabung air didukung dengan pembuatan lubang biopori dan parit resapan. GEMAR pertama kali digagas oleh Prof. Dr. Ir. Muh. Bisri (Universitas Brawijaya) bersama Ir. Bambang Irianto (ketua RW 23). Saat ini Glintung RW 23 sudah membuat 675 biopori, dan sumur resapan (injeksi) 7 buah. Bisa menampung air sebanyak 33 ribu liter ketika hujan. Biopori dan sumur resapan tersebut efektif mencegah banjir di kawasan Glintung saat ini dan  sumur-sumur penduduk terisi semua. Sumur dengan kedalaman 15 meter bisa terisi hingga 10 meter. Saat musim kemarau airnya terjaga, tidak kering seperti dulu.

Melalui studi lapangan di Kampung 3G (Glintung Go Green) ini dapat diambil kesimpulan bahwa perbaikan lingkungan(konservasi) dapat dilakukan Pemerintah dengan partisipasi penuh masyarakat melalui penerapan inovasi teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. Tak hanya dampak ketersediaan air dan kehidupan sosial warga sekitar yang meningkat, manfaat GEMAR inovasi Kampung 3G ini mengangkat kehidupan ekonomi