Ditulis pada tanggal 24 April 2015, oleh roni, pada kategori Berita

stunas-hari-ke-3

Rabu (15/Apr/2015); Dalam rangka memperluas wawasan dan pengetahuan di dunia  kerja, Mahasiswa Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) yang turut serta dalam Study Nasional 2015 (13-18/4) melanjutkan kunjungannya ke Proyek Sudetan ke Kanal Banjir Timur (KBT), Perum Jasa Tirta II, dan  Bendungan jatiluhur.

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC)

Kunjungan ke BBWSCC kali ini bertujuan untuk mengetahui proyek pembangunan terowongan pengendali banjir (sudetan) kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT). Sudetan ini berfungsi mengalirkan debit air dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) melalui Kali Cipinang. Hal ini dikarenakan debit di Sungai Ciliwung telah melampaui debit banjir rencana.

Proyek ini menggunakan teknologi canggih dari Jepang. Kontraktor yang didatangkan dari jepang berjumlah 6 orang untuk mengoperasikan alat tersebut. Proyek ini dilaksanakan di sepanjang jalan Otista dengan pengerjaan tahap 1 selama 2 tahun. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, diameter pipa yang digunakan 3 meter. Pada tahap 1 yang dilakukan adalah tahap pengeboran dan memasukkan pipa sebanyak 400 pipa. Hingga saat ini pipa yang telah masuk 133 pipa untuk masing-masing saluran.

Menurut Lia, staff BBWSCC, metode Earth Pressure Balance (EBM) untuk pengeboran merupakan teknologi  baru di Indonesia. Keberadaan proyek ini tidak mengganggu aktivitas lalu lintas dan sekitar proyek, sebab alat ini mengatur tekanan dan getaran didalam tanah jadi tidak terasa hingga permukaan. Hanya pada awal proyek saat membuat Arriving Shaft jalan ditutup karena penggalian dan nanti saat pipa telah menyatu maka Arriving Shaft ini akan dibuka dan jalan ditutup kembali selama 2,5 bulan.

Selain membahas proyek Sudetan ke KBT, segenap jajaran BBWSCC juga membuka sesi tanya jawab mengenai banjir di Jakarta. Dalam penjelasannya, banjir jakarta memang tidak bisa dihilangkan tapi dapat dikurangi. Hal ini disebabkan kondisi topografi di Jakarta yang berada di bawah muka air laut, ditambah kondisi sungai yang banyak sampah dan daerah resapan berkurang. Hal yang dilakukan BBWSCC adalah pengendalian hulu dan hilir. Di Hulu dibangun dam-dam pengendali untuk mengantisipasi banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya.

Perum Jasa Tirta II & Bendungan Jatiluhur

Bendungan Ir. Djuanda atau yang lebih dikenal dengan Bendungan Jatiluhur, terang Dyah, salah satu staff divisi bendungan, merupakan satu-satunya bendungan di Indonesia yang menggunakan pelimpah tipe morning glory. Konsultan perencana dan pengawas bendungan ini adalah dari Perancis. Pemilihan tipe morning glory untuk pelimpah didasarkan pada tampungan di waduk Jatiluhur sangat melimpah.

Harry M.Sungguh, Direktur Pengelolaan Air di PJT II yang sekaligus merupakan alumni Teknik Pengairan, juga menjelaskan mengenai bendungan Jatiluhur yang multipurpose. Diantaranya, pemenuhan kebutuhan air irigasi dan DMI, PLTA, perikanan darat, dan pariwisata.

Kunjungan diakhiri dengan melihat pelimpah morning glory dan juga mendengarkan penjelasan langsung di lokasi bendungan.

643 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini