Ditulis pada tanggal 25 November 2014, oleh admin, pada kategori Berita

Kliping Koran0040

MALANG KOTA – Proyek mulia Jembatan KH. Abdullah Fattah telah diresmikan Wali Kota Malang Moch. Anton kemarin. Jembatan yang sebelumnya dinamakan Jembatan Betek-Tembalangan ini bisa menjadi contoh nasional. Inilah jembatan dengan rangka baja pertama hasil swadaya masyarakat.

Jembatan Jadi Laboratorium Mahasiswa UB

Seluruh Dana proyek yang diinisiasi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini (UB) dengan Jawa Pos Radar Malang ini murni sumbangan masyarakat. Tidak sedikitpun menggunakan dana pemerintah.

Peresmian itu kemarin ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh empat tokoh, yakni alikota Malang Moch. Anton; Rektor UB Prof. Dr. Ir. Moch. Bisri MS; Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad; dan Dekan FTUB Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono MT.

Kliping Koran0041

Hadir dalam peresmian ke­marin sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat. Di antaranya Ketua DPRD Kota Malang Arief Wicaksono; Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Pemkot Malang Jarot Edi Sulistyono; Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jatim Heri Mursyid Brotosejati; Wakil Ketua REI Malang yang juga bos Malang City Point Hendra Sugianto; Pengasuh Pesantren Baghrul Maghfiroh KH Lukman Al Karim; Sekretaris REI Malang Samsul Mahmud; Anggota REI Malang Ghufron Marzuld; Sekjen Pemuda Pancasila Kota Malang Nur Hadi; Camat Klojen Rino; Camat Lowokwaru Rustamaji; Lurah Penanggungan Fauzan Indra Saputra; dan Lurah Jatimulyo Heri Santoso. Hadir pula dalam acara tersebut seluruh dekan dari UB.

Wali Kota Malang Moch. Anton dalam sambutannya tak henti­-henti menyatakan kebanggaan­nya terhadap pembangunan proyek mulia ini. Menurut Anton, jembatan yang dibangun secara swadaya tersebut bisa menjadi bangunan monumental yang ada di Malang dan bisa menjadi ikon nasional. “Ini karya monumental, bagaimana swadaya masyarakat bisa membangun jembatan yang sangat kokoh,” kata Anton di­sambut tepuk tangan para un­dangan yang hadir.

Wali kota berlatar belakang pengusaha ini menambahkan, dengan banyaknya  jembatan yang sudah berumur tua di Kota Malang, menurut Anton, sangat diperlukan adanya sumbangsih masyarakat. Oleh karenanya, Anton berharap jembatan yang digagas oleh Jawa Pos Radar Malangdan FT UB ini bukanlah jembatan terakhir yang dibangun secara swadaya. “Ada jembatan di Polehan yang kondisinya juga memprihatinkan, saya berharap Jawa Pos Radar Malang dan FT UB terus berkoalisi untuk membangun banyak jembatan lain” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kumiawan Muhammad tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya atas berdirinya jembatan dengan mengambil nama ulama yang pernah berjuang di kawasan Betek-Tembalangan tersebut. Sebab ketika awal dirinya diajak oleh Prof Dr Ir M Bisri yang kala itu masih menjabat Dekan FT UB dalam membangun jembatan itu sempat ragu. Sebab dari rencana anggaran belanja, kebutuhan dananya sebesar Rp 1,6 miliar Namun setelah diyakinkan oleh Bisri yang kini menjadi Rektor UB itu, akhimya dirinya mantap melanjutkan proyek jembatan ini dengan menggalang dana dari pembaca Jawa Pos Radar Malang. “Kata Pak Rektor saat itu InsyaAllah bisa dan Alhamdulillah bisa tuntas. Pak Rektor ini ada setengah­-setengah dukunnya juga,” kata Kurniawan lantas disambut tepuk tangan undangan.

Kliping Koran0042

Jembatan baja yang kokoh ini, menurut Kurniawan, bisa jadi jembatan pertama yang diba­ngun secara swadaya di Indo­nesia. Dia berkeyakinan bahwa jembatan ini bisa menjadi jembatan yang sangat kokoh. “Jembatan ini kokoh lahir dan batin, kokoh lahir karena terbuat dari baja dan kokoh secara batin karena tim yang membangun jembatan ini sangat ikhlas,” imbuhnya disambut tepuk para peserta undangan.

Kumiawan menambahkan, total dana pembangunan jembatan ini menghabiskan sekitar Rp 800 juta. Sedangkan dana yang ter­kumpul dari pembaca Jawa Pos Radar Malang mencapai Rp 1,429 miliar. Nah, dana yang tersisa rencananya akan dibangun jembatan di tempat lain.

Ketua tim pembangunan jembatan Ir Sugeng P Budio MS mengatakan hal serupa. Menurut dia, awalnya dia sempat ragu bisa merampungkan jembatan ini. Namun, lagi-lagi, Prof Bisri menyemangati Sugeng untuk bisa menyelesaikan pembangunan jembatan ini. “Beliau bilang, lakukanlah seperti apa yang kita lakukan di Masjid Jami Kota Malang, jika tidak ada korupsi masyarakat akan percaya pada kita,” kata Sugeng yang dengan Bisri termasuk dalam tim pemba­ngunan Masjid Jami Kota Malang. Sugeng melanjutkan, sebagai tim pembangunan jembatan, salah satu yang dia lakukan adalah menurunkan tim terbaik dari FT-UB. Salah satu yang berkontribusi dalam pembangunan jembatan ini, menurut Sugeng, adalah Prof Dr Ir Sri Murni Dewi MS yang menjadi pengarah.

Nah, karena tidak dibangun ala kadarnya ini, bahkan Sugeng akan menjadikan jembatan yang mengadopsi model boomerang bridge ini sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa FT-UB. Lantaran, secara teori dan teknis, jembatan ini dibangun dengan kualitas jempolan. “Tumpuan dan sendi jembatan ini sesuai dengan teori, saya yakin jembatan ini bisa stabil dan kokoh, serta bisa menjadi laboratorium lapangan UB,” urainya.

Rektor UB Prof Dr Ir Moham­mad Bisri MS mengatakan, pem­bangunan jembatan swadaya ini merupakan wujud dari Tridharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah pengabdian masyarakat. “Kita ini tidak ingin UB berada di menara gading, harus membumi.” kata Bisri. Oleh karenanya, setelah pembangunan jembatan ini, UB akan terus melakukan pengabdian kepada masyarakat. UB dengan Jawa Pos Radar Malang siap melaksanakan pembangunan jembatan selanjutnya. “Nanti akan kita seleksi jembatan mana yang paling butuh dibangun,” kata dia. (riq/c2/abm)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit 25 November 2014 hal. 29 dan 39

1,047 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini